Jumat, 18 Oktober 2013

FARID

Lama sudah Farid tertegun, berdiam diri duduk dibawah naungan langit hitam, di lantai paling atas rumah mewah miliknya. Selama beberapa jam, tak sedikitpun dia palingkan tatapan matanya.Seluruh anggota tubuhnya seolah olah kaku seperti patung. Tidak ada pergerakan. Seperti tidak ada tanda kehidupan. Hanya matanya yang hidup, memandangi bintang yang paling terang, di langit malam Kota Jakarta.

Sorotan mata itu yang seakan perih namun terasa tercampur aduk dengan rasa bahagia seolah menggambarkan bahwa ia sedang mengingat masa kecilnya dahulu. Dia tidak pernah melewatkan momen ini disetiap malamnya. Dia selalu ingin mengenang, merasakan kembali kisah hidupnya puluhan tahun lalu. Mengingat kembali pelajaran berharga yang ia dapatkan oleh guru kehidupan. 

“Kau tau? Kau ini anak haram. Ibumu membuang mu ketempat sampah!” Sambil menunjuk-nunjuk muka Farid yang sedang tertunduk. Sepertinya ibu panti asuhan itu tidak rela uang yang hanya seratus ribu rupiah hilang dari tabungan berjuta-juta miliknya yang ia kumpulkan untuk naik haji. “Kelakuanmu tidak kalah rusaknya seperti ibumu. Kau harus menerima hukuman atas perbuatanmu! Sekarang kau tidur di luar dan tidak dapat jatah makan untuk malam ini! Mengertikau? ” Bentak ibu panti asuhan itu.

Tidak ada satu kata pun terlontar dari mulut Farid. Malam ini dia akan tidur di luar. Sedikitpun dia tidak kesal atau marah. Menurutnya, dia telah melakukan hal yang seharusnya dia lakukan dari dahulu. Mencuri dari uang hasil mencuri. Ya, sebenarnya itu adalah uang milik Farid, milik semua anak panti asuhan.  Ibu panti asuhan yang tamak itu telah menimbun uang dari sumbangan para donator untuk kepentingannya sendiri.  Namun tetap saja perilaku Farid salah. Tapi Farid merasa puas karena satu lembar seratus ribu rupiah lagi masih tersisa di kantong celana dalamnya sebelah kiri. Dia mencuri uang dua ratus ribu rupiah ternyata. Namun dia sengaja untuk ketahuan mencuri, dan mengembalikan uang seratus ribu rupiah yang telah dicurinya. Rencana yang ia susun sepertinya akan berjalan mulus. Rencana yang sudah ia buat sejak dua minggu yang lalu. Dia sudah muak dengan segala urusan ini. Dia hanya ingin pergi saja. Entah kemana. Asalkan pergi dari panti asuhan itu.

Malam itu di malam kedua atas pelariannya, tubuhnya yang kurus akhirnya ambruk. Dia sudah berjalan puluhan kilometer sejauh ini. Uang seratus ribu yang ia punya, tidak digunakannya sama sekali. Untuk mengisi perutnya pun ia tak pedulikan. Namun, akhirnya,  selesailah perjalanan melelahkan itu. Ia akhirnya sampai di Jakarta, yang kebanyakan orang bilang itu adalah kota yang kejam.

Hari pertama di kota metropolitan, Dia tidak tau harus pergi kemana dan tinggal dimana. Jika sudah pusing seperti ini, dia akan berserah kepada malam, mencurahkan perasaannya kepada bintang di langit.  Ketika sedang duduk termangu, tiba-tiba datang seorang lelaki tua menyapanya.

“Nak, apakah kau orang baru disini? Kau sudah makan?” Tanya si lelaki tua itu tanpa basa-basi. Farid pun seketika terkejut. Ternyata bapak itu adalah seorang pemulung. “Jika kau belum makan bilang sama saya. Biasanya orang yang sedang duduk melamun disini, itu dia sedang kelaparan.” Sambil tertawa bapak itu pun menyodorkan sebungkus nasi kepada Farid. “Makanya saya selalu membeli dua bungkus nasi untuk seseorang yang menemani saya makan.” Ujarnya kepada Farid. Farid menerimanya dengan ucapan terimakasih. Namun dia merasa masih bingung dengan bapak itu, apakah masih ada orang sebaik itu?

“Saya baru sampai ke Jakarta kemarin sore Pak. Saya kabur dari panti asuhan tempat dulu saya tinggal. Makanya saya bingung harus kemana.” Farid menjelaskan. Kini ia tahu, lelaki tua itu memang orang yang baik, beruntung sekali dia bertemu lelaki tua itu. “Hidup disini keras, Nak. Kau sebaiknya tidak usah kesini! Kau akan mati jika kau tidak bekerja keras dan tidak punya keahlian apa-apa.” Ucap lelaki tua itu. 

“Saya hanya ingin memulai kehidupan yang baru, tidak tinggal di panti asuhan.” Balasnya tegas.

“Kalau begitu mulailah dari sekarang. Jangan plinat-plinut kesana kemari. Kau harus mencari pekerjaan. Tapi saran saya, sesulit apapun kau mendapatkannya, tetaplah mencari rezeki yang halal. Disini halal atau haram sudah tidak jelas lagi. Kebanyakan dari mereka tidak pernah memperdulikannya.” Ujar lelaki tua berwajah menyenangkan itu.

Malam semakin larut, namun kedua manusia yang baru bertemu itu tetap memperpanjang obrolannya. Tidak peduli waktu sudah menunjukan pukul berapa. Alhasil, setelah pembicaraan panjang pada malam itu, Farid berpikir dan mulai berniat untuk memulai karirnya disini. Tekadnya hanya ingin membalas jasa lelaki tua itu. Kini dia memutuskan untuk membeli sebuah gitar. Ya, dia akan mengamen. Jangan tanyakan soal keahliannya dalam bernyanyi dan bermain gitar. Dia bisa disejajarkan dengan Ariel vokalis Noah.

Hidup tanpa sebuah mimpi besar, hanyalah sebuah kesia-siaan. Farid menyadari itu. Ia kini menjadi pribadi pekerja keras. Pagi, siang, sore dan malam dia mengamen. Stasiun, halte, terminal, dan kopaja adalah tempat persinggahannya setiap hari. Hingga pada suatu hari ia menemukan jalannya. Tuhan telah menjawab segala doanya. Kompetisi menyanyi yang diadakan oleh salah satu stasiun tv swasta terkenal telah membuka jalannya untuk mewujudkan impiannya. Dia mendaftar, diterima, menjadi salah satu finalis sepuluh besar, hingga akhirnya dia menjadi juara pertamanya. Karir dan kesuksesannya terus menanjak. Dia menjadi penyanyi terkenal tanah air, memiliki album sendiri, albumnya terjual jutaan copy, diundang nyanyi di dalam maupun di luar negeri.

Seketika Farid tersentak dalam lamunannya. Ia kini menangis, mengingat betapa indah jalan hidupnya. Jika ia tidak keluar dari panti asuhan itu, tidak tau lah ia sekarang menjadi apa. Ternyata jalan kesuksesan sebenarnya memang sudah tersedia di awal. Hanya saja, kita sendiri yang ragu untuk mendobrak tembok penghalangnya. Hanya kesabaran yang bisa memecahkan segala kesulitan.

Kini, perjuangannya selama puluhan tahun untuk mewujudkan segala keinginan dan cita-citanya tidak kalah hebatnya dibandingkan penemuan bola lampu oleh Thomas Alfa Edison. Segala bentuk perjuangan yang dia lalui dengan kerja keras, semangat hidup, dan tidak lupa diiringi dengan mimpi yang besar. Kini dia telah menjadi permata. Sesuai namanya Farid yang artinya batu permata. Siapa yang tidak mengenal artis tanah air yang satu ini?